Entry: Wolf Girl Thursday, March 22, 2007



Penulis: Theresa Tomlinson (www.theresatomlinson.com)
Penerjemah: Ferry Halim
Akan segera terbit di (little) Serambi (www.serambi.co.id, www.littleserambi.com)


                                   

Setelah sekian lama tidak menulis review, akhirnya diriku pun tergoda untuk menulis lagi. I've read so many books, even though not as much as I used to, pi selalu males bikin reviewnya. Hihihi, sayang ya? Padahal menurutku penting bikin review, selain belajar menulis dari apa yang kita baca, seneng aja baca hasil review itu lagi kapan-kapan. Hihihi, mengingatkan kembali apa yang udah kita baca dan seberapa besar kita mengapresiasinya.

I've just read Wolf Girl. Novel yang sangat mengesankan yang menceritakan perjuangan Wulfrun, si gadis serigala yang berusaha menyelamatkan ibunya dari tuduhan pencurian atas sebuah kalung yang amat berharga. Untuk membuktikan ibunya tidak bersalah, Wulfrun harus melewati perjuangan yang tidak mudah. Dari berkelana ke tempat yang yang tak pernah dikunjunginya, hampir celaka karena ada yang berusaha menghalang-halangi niatnya, dan mengalami petualangan yang membahayakan bersama teman-temannya.

Novel ini berlatar kehidupan di Inggris pada zaman Anglo Saxon sekitar abad 6 s.d 7 M. (Btw, novel ini mengingatkanku pada Pope Joan, yang juga nyerempet-nyerempet budaya Anglo Saxon dan kehidupan di biara). Alkisah Wulfrun, anak perempuan Cwen si penenun tertangkap basah oleh Lady Irminburgh--orang yang diserahi tanggung jawab memimpin Biara Whitby saat sang Suster Kepala, Hild, sedang mengunjungi Bamburgh untuk menemui Sang Ratu Northumbria, Ratu Ianfleda--sedang mengenakan kalung batu akik merah yang berhiaskan burung yang sedang terbang dan memiliki bandul salib.

Tak mungkin keluarga Wulfrun yang miskin memiliki kalung tersebut. Cwen mengaku mendapatkan kalung tersebut dari seorang Ibu dan dua anaknya saat dia berumur 10 tahun. Kala itu dia seorang gadis nelayan yang sedang mendorong perahu di pantai. Tak dinyana dia bertemu dengan Ibu dan dua anaknya, dua orang biarawan serta seorang pelayan hendak melarikan diri dari kejaran musuh. Cwen menolong mereka dengan mendorong perahunya ke perahu yang lebih besar yang hendak ditumpangi mereka. Sebagai imbalannya, sang Ibu menghadiahinya kalung indah tersebut. (Belakangan diketahui kalau Ibu tersebut adalah Ratu Tata, permaisuri Raja Edwin yang melarikan diri dari kejaran Raja Penda.)

Penjelasan itu terdengar tak masuk akal, Lady Irminburgh menyuruh Ulfstan, si penjaga biara, untuk menahan Cwen dan bermaksud mengadilinya dengan hukuman gantung, cambuk, atau rajam. Wulfrun sangat sedih, merasa menjadi penyebab ditahannya Ibunya. Kini ia cuma tinggal berdua adiknya, Gode yang masih berumur lima tahun. Satu-satunya tetangga yang masih peduli pada mereka adalah Fridgyth dan temannya, Cadmon si penggembala sapi. Fridgythlah yang menyarankan agar Wulfrun berusaha mencari tahu soal kalung tersebut untuk menghindarkan ibunya dari hukuman. Yang berhak mengadili Cwen adalah sang Suster Kepala, Hild. Namun, Hild belum juga kembali hingga berbulan-bulan.

Beruntung Wulfrun diangkat menjadi pelayan Putri Elfeld, anak asuh Hild, yang sebenarnya adalah putri Raja Oswy dan Ratu Ianfleda. Elfled diserahkan pada Hild untuk diasuh dan kelak menjadi biarawati. Perkenalannya dengan sang putri sangat tidak sengaja, pada awalnya Wulfrun tidak menyukai sang putri, pada akhirnya sang putrilah yang percaya bahwa ibunya tak bersalah, dan berusaha membantunya mengetahui asal usul kalung tersebut. Masalahnya kalung tersebut ditahan oleh Lady Irminburgh, bahkan dia mengklaim bahwa kalung itu adalah miliknya. Padahal Putri Elfled yakin benar kalau kalung itu adalah milik neneknya, Ratu Tata, karena dia memiliki gelang yang merupakan pasangan dari kalung tersebut.

Lady Irminburgh berusaha menghalang-halangi niat Wulfrun untuk mencari informasi mengenai kalung itu. Berkali-kali ia berusaha mencelakakan Wulfrun. Namun Wulfrun beserta Putri Elfled, dan Adfrith, sang biarawan terus berusaha membuktikan bahwa Cwen tak bersalah dan kalung itu juga bukan milik Irminburgh. Yang membuat masalah semakin rumit adalah Irminburgh memengaruhi Pangeran Ecfrid, kakak Putri Elfled, untuk memberontak dan merebut tahta Deira dari tangan Pangeran Alchfrid, yang merupakan kakak tiri Ecfrid. Ecfrid yang masih muda dan polos tergoda oleh kecantikan Irminburgh dan menuruti setiap keinginannya.

Masalah mencapai puncak saat Elfled yang kesal dengan Ecfrid dan Irminburgh melarikan diri dari Whitby dan berniat menemui Ibu Ratu Ianfleda di Bamburgh. Wulfrun, Adfrith, dan Cadmon menyusul sang putri akhirnya mereka bersama-sama berkelana menuju Bamburgh. Setelah melalui perjuangan panjang kedinginan, kelaparan selama di perjalanan, dan hampir mati karena pasir isap, mereka sampi di Bamburgh. Mereka berhasil menemui Hild dan Ratu Ianfleda.  Sang Ratu membenarkan bahwa dia telah menghadiahkan kalung itu pada Cwen, si gadis nelayan pada waktu itu. Pertemuan antara Ianfleda dan Elfled sangat mengharukan karena mereka telah terpisah selama 10 tahun. Mereka semua kembali ke Biara Whitby dengan menggunakan Kapal Royal Edwin dan berhasil menggagalkan rencana jahat Irminburgh. Cwen dibebaskan dan diangkat menjadi kepala penenun biara, dan Wulfrun, si gadis serigala, diangkat menjadi penjaga, kakak, dan teman bagi Elfled

Sejarah Biara Whitby

Semua cerita mengenai Biara Whitby, Suster Kepala Hild, Ratu Ianfleda, dan Raja Oswy adalah benar adanya. Penemuan kalung emas dengan hiasan batu akik merah dan rencana pemberontakan Ecfrid serta Irminburgh adalah rekaan semata; walaupun menurut Bede, istri kedua Ecfrid memang bernama Irminburgh atau Iurminburgh.

Pas baca novel ini aku jadi semakin tertarik dengan sejarah Anglo Saxon itu. Dan lo pernah denger Elf dong, manusia peri yang ada di The Lord of the Rings. Ratu Ianfleda memanggil Elfled, dengan: Elf mungilku. Hmm si Elfled memang digambarkan cantik dan berambut ikal keemasan seperti peri. Dulu orang-orang Inggris memuja Freya dan Woden sebelum Kristen akhirnya diterima menjadi keyakinan mereka. Pada abad itu, meskipun mereka sudah memeluk Kristen, kepercayaan akan Freya dan Woden masih belum bisa sepenuhnya hilang. Terkadang mereka berdoa demi Freya dan Woden dan bukan demi Yesus Kristus.

Nama-nama dalam novel ini memang sangat susah dieja (apalagi ditulis). Seperti misalnya Fridgyth, Ulfstan, Elfled, Adfrith, dll. Tapi secara umum novel ini menyenangkan banget dan begitu mulai membacanya lo gak bisa berhenti sampai halaman terakhir. Yah, intinya novel ini sangat aku rekomendasiin untuk dibaca. Terutama lo Fi, Ri, lo kan suka novel sejarah bukan? (lo suka gak ya, Nov?) Kalau dah terbit di Serambi, tentu akan segera aku kasih tau ya. Kobo, dirimu juga akan aku kasih tau:-P.

@Ida

   1 comments

Indah
April 11, 2007   02:16 AM PDT
 
Padahal menurutku penting bikin review, selain belajar menulis dari apa yang kita baca, seneng aja baca hasil review itu lagi kapan-kapan. Hihihi, mengingatkan kembali apa yang udah kita baca dan seberapa besar kita mengapresiasinya.

==> Hehehe.. iya juga sih, tapii kadang susyee 'boo, buat bikin review :)

Btw, salam kenal yaa, mampir ke sini dr blognya Kobo ;) Ciaoo..

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments